Senin, 05 November 2018

BUDIDAYA SELADA MERAH

BUDIDAYA TANAMAN SELADA MERAH (Lactuca Sativa L) VARIETAS LOLLO ROSSO
LAPORAN PAKTIKUM DASAR-DASAR AGRONOMI






Oleh :
Hiperdo Dhumas  522016099
                                                 


FAKULTAS PERTANIAN DAN BISNIS
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2017


I.                   PENDAHULUAN
1.1. LatarBelakang
Selada (Lactuca sativa L.) termasuk dalam kelompok tanaman sayuran daun yang dikenal di masyarakat. Jenis sayuran ini mengandung zat - zat gizi khususnya vitamin dan mineral yang lengkap untuk memenuhi syarat kebutuhan gizi masyarakat. Selada sebagai bahan makanan sayuran bisa konsumsi dalam bentuk mentah sebagai lalapan bersama-sama dengan bahan makanan lain. Selain berguna untuk bahan makanan, selada juga berguna untuk pegobatan (terapi) berbagai macam penyakit. Sehingga dengan demikian, selada memiliki peranan yang sangat penting di dalam menunjang kesehatan masyarakat.
Selada (Lactuca sativa L) merupakan salah satu komoditi hortikultura yang memiliki prospek dan nilai komersial yang cukup baik. Semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia serta meningkatnya kesadaran penduduk akan kebutuhan gizi menyebabkan bertambahnya permintaan akan sayuran. Kandungan gizi pada sayuran terutama vitamin dan mineral tidak dapat disubtitusi melalui makanan pokok, Nazaruddin (2003).
Mengingat akan pentingnya sayuran ini bagi kesehatan,baik kandungan gizi maupun seratnya, mendorong masyarakat makin menggemari sayuran khususnya daun selada. Permintaan yang terus meningkat sesuai dengan pertambahan pendudukmaka perlu adanya usaha-usaha pengembangan tehnologi dalam budidaya  selada.Memperhatikan kegunaannya yang beragam di dalam kehidupan sehari-hari, maka selada sangat mudah dipasarkan. Sehingga apabila dibudidayakan (diusahakan) dengan baik dapat memberikan keuntungan yang besar. Berusaha tani selada dapat berhasil dengan baik apabila petani memiliki pengetahuan yang luas mengenai semua aspek yang berkaitan dengan tanaman selada, yaitu mulai dari manfaat dan kegunaannya, varietas, mutu benih, teknik budidaya, kondisi lingkungan bertanam, penanganan panen dan hama penyakit yang menyerang selada itu sendiri.

1.2. Tujuan
1.      Mengetahui syarat tumbuh tanaman selada merah
2.      Mengetahui teknik budidaya yang baik untuk tanaman selada merah

1.3. MetodePelaksanaan
1.      Metode
Metode yang digunakan adalah praktik budidaya di lapangan.
2.      Waktu danTempat
Kegiatan ini dilaksanakanpada 15 september 2017 di Kebun Percobaan Salaran Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (FPB UKSW).

II.                DASAR TEORI
2.1. Deskripsi Tanaman
Selada merupakan sayuran daun yang berasal dari daerah (negara) beriklim sedang. Menurut sejarahnya, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 2500 tahun yang lalu. Tanaman selada berasal dari kawasan Amerika. Hal ini dibuktikan oleh Christoper Columbus pada tahun 1493 yang menemukan tanaman selada di daerah Hemisphere bagian barat dan Bahamas (Rukmana, 1994).
Selada merupakan jenis sayur yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Konsumennya mulai dari kalangan masyarakat kelas bawah hingga kalangan masyarakat kelas atas. Selada sering dikonsumsi mentah sebagai lalap lauk makan yang nikmat ditemani sambal. Masakan asing seperti salad menggunakan selada untuk campuran, begitu juga hamburger, hot dog, dan beberapa jenis masakan lainnya. Hal tersebut menunjukkan dari aspek sosial bahwa masyarakat Indonesia mudah menerima kehadiran selada untuk konsumsi sehari-hari (Haryanto et al., 1995).
Tanaman selada (Lactuca stiva) termasuk jenis tanaman sayuran daun dan tergolong ke dalam tanaman semusim (berumur pendek). Tanaman tumbuh pendek dengan tinggi berkisar antara 20 cm – 40 cm atau lebih, bergantung pada tipe dan varietasnya. Tanaman selada ada yang membentuk krop (kumpulan daun – daun yang saling merapat membentuk kepala) dan ada varietas yang tidak membentuk krop. Tinggi tanaman selada daun berkisar antara 30 cm – 40 cm dan tinggi tanaman selada kepala berkisar antara 20 cm – 30 cm.
Secara morfologi, organ – organ penting yang terdapat pada tanaman selada adalah sebagai berikut :
a.       Daun
Daun tanaman selada memiliki bentuk, ukuran, dan warna yang beragam, bergantung pada varietasnya. Misalnya, jenis selada yang membentuk krop memiliki bentuk daun bulat atau atau lonjong degan ukuran daun lebar atau besar, daunnya ada yang berwarna hijau tua, hijau terang, dan ada yang berwarna hijau agak gelap. Sedangkan jenis selada yang tidak membentuk krop, daunnya berbentuk bulat panjang, berukuran besar, bagian tepi daun bergerigi (keriting), dan daunnya ada yang berwarna hijau tua, hijau terang, dan merah. Daun selada memiliki tangkai daun lebar dan tulang – tulang daun menyirip. Tangkai daun bersifat kuat dan halus. Daun bersifat lunak dan renyah apabila dimakan, serta memiliki rasa agak manis. Daun selada umumnya memiliki ukuran panjang 20 cm – 25 cm dan lebar 15 cm atau lebih.
b.      Batang
Tanaman selada memiliki batang sejati. Pada tanaman selada yang membentuk krop, batangnya sangat pendek dan hampir tidak terlihat dan terletak pada bagian dasar yang berada di dalam tanah. Sedangan selada yang tidak membentuk krop (selada daun dan selada batang) memiliki batang yang lebih panjang dan terlihat. Batang bersifat tegap, kokoh, dan kuat dengan ukuran diameter berkisar antara 5,6 cm – 7 cm (selada batang), 2 cm – 3 cm (selada daun), serta 2 cm – 3 cm (selada kepala).
c.       Akar
Tanaman selada memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Akar serabut menmpel pada baying, tumbuh menyebar, ke semua arah pada kedalaman 20 cm – 50 cm atau lebih. Sedangkan akar tunggangnya tumbuh lurus ke pusat bumi. Perakaran tanaman selada dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang subur, genbur, mudah menyerap air, dan kedalaman tanah (solum tanah) cukup dalam.
d.      Biji

Biji tanaman selada berbentuk lonjong pipih, berbulu,agak keras, berwarna coklat, tua, serta berukuran sangat kecil, yaitu panjang 4 mm dan lebar 1 mm. Biji selada merupakan biji tertutup dan berkeping dua, dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman (perkembangbiakan).
e.       Bunga
Bunga tanaman selada berwarna kuning, tumbuh lebat dalam satu rangkaian. Bunga memiliki tangkai bunga yang panjang sampai data mencapai 80 cm atau lebih. Tanaman selada yang ditanam di daerah yang beriklim sedang (subtropik) mudah atau cepat berbuah.
Dalam ilmu tumbuhan, tanaman selada diklasifikasikan sebagai berikut.
Divisi                                      : spermatophyte (tanaman berbiji)
Subdivisi                                : Angiospermae (biji berada di dalam buah)
Kelas                                      : Dicotyledonae (biji berkeping dua atau biji
                                           belah)
      Ordo (bangsa)                        : Asterales
      Famili (suku)                         : Asteraceae (Compositae)
      Genus (marga)                       : Lactuca
                              Spesies (jenis)                        : Lactuca sativa ( Haryanto et al, 1995).
Selada yang tergolong spesies lactuca sativa memiliki banyak varietas, yang telah dikembangkan dan dibudidayakan oleh masyarakat. Di antaranya ada varietas yang berkrop, yaitu yang membentuk kumpulan daun – daun yang saling merapat membentuk bulatan menyerupai kepala, dan ada varietas yang helaian daunnya lepas tidak merapat membentuk bulatan.    
Tanaman selada dikembangbiakkan dengan bijinya. Sebelum dikembangbiakkan biasanya disemaikan dulu di persemaian. Biji selada dapat dibeli di toko-toko pertanian, namun dapat juga disiapkan sendiri dengan memilih biji yang tua dan sehat (Barmin, 2010).

2.2. Budidaya Tanaman
A.    Teknik Budidaya Tanaman Selada Merah
1.      Pembenihan dan Pembibitan
Tanaman selada dikembangkan dengan biji. Benih selada dalam bentuk biji tersebut bisa disebarkan langsung di atas bedengan, namun yang paling baik adalah disemaikan terlebih dahulu di lahan persemaian selama kurang lebih satu bulan, atau disaat bibit tanaman tersebut telah memiliki 3 – 5 helai daun. Pembibitan dengan persemaian selain dapat menghemat benih, juga memudahkan pemeliharaan bibit, karena bibit yang akan dipindah tanamkan dapat terlebih dahulu diseleksi.
2.      Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilakukan dengan cara mencangkul atau membajak untuk membalikkan tanah. Setelah itu tanah dikeringkan selama ± 15 hari, sebelum kembali diolah dengan membentuk bedengan atau cukup diratakan selama di sekeliling lahan diberi parit pembuangan air dengan lebar 40-60 cm dan dalam 50-60 cm. Jika dibentuk bedengan, lebar parit tersebut adalah 80-120 cm sedang tingginya 30-40 cm, sehingga setiap bedengan bisa ditanami 3-5 barisan tanaman dengan jarak antar bedeng 30-40 cm.
3.      Penanaman
Selada tergolong tanaman yang tidak tahan terhadap hujan lebat, maka waktu tanam sebaiknya dilakukan pada akhir musim hujan atau sekitar bulan Maret/April, pada pagi atau sore hari.
Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menanam selada, yakni dengan :
a.       Menyebarkan benihnya secara langsung, atau
b.      Memindahkan bibit yang telah disemai ke lahan tanam.
c.       Namun, sebagaimana tersebut di atas, cara penanaman yang paling baik adalah dengan menyemai bibit terlebih dahulu.
4.      Pemeliharaan
Dalam masa pemeliharaan, tanaman selada memiliki beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti :
a.       Penyiangan
Selada sudah harus disiangi ketika berumur 2 minggu. Hal ini disebabkan karena akar selada yang menancap di tanah dangkal, sehingga tidak mampu untuk bersaing dengan tanaman lain utamanya rumput-rumput liar dalam menyerap hara. Fungsi lain dari penyiangan adalah untuk menekan serangan hama/penyakit. Penyiangan dilakukan dengan Interval satu minggu sekali.
b.      Pengairan
Tanaman selada butuh air yang cukup, maka pengairan juga harus mendapat perhatian, utamanya di daerah dataran rendah yang suhu udaranya lebih panas serta sering kekurangan air. Kebutuhan air wajib dipenuhi pada masa awal penanaman, disaat tanaman berumur 2 minggu, atau saat penyiangan pertama, juga pada waktu tanaman berumur satu bulan.
c.       Penyiraman
Penyiraman bisa dilakukan dengan langsung menyiramkan air ke bagian batang dan daun tanaman dengan percikan air, bisa juga dengan mengalirkan air melalui parit-parit pengairan di kanan-kiri lahan penanaman. Perhatikan kondisi parit pengairan, agar senantiasa dapat melewatkan kelebihan air di saat turun hujan lebat. Jangan sampai ada air yang tergenang cukup lama di sekitar tanaman, karena akan merusak perakaran dan menyebabkan tanaman menjadi roboh.
d.      Pemupukan
Jika tanaman terlihat kurang subur, berikan pupuk tambahan berupa pupuk kandang sebanyak 2 ton untuk satu hektar lahan. Pupuk kandang yang baik adalah yang mengandung unsur nitrogen yang tinggi seperti kotoran ayam. Selain pupuk kandang, dapat pula ditambahkan pupuk kimia. Menurut Direktorat Jendral Pertanian (1992), tanaman selada membutuhkan pupuk anorganik untuk setiap hektarnya adalah: urea 220 kg/ha, TSP 220 kg/ha, dan KCl 160 kg/ha, dimana pupuk tersebut diberikan di alur kiri dan kanan tanaman. Hasil penelitian Setiowati (2011) memperlihatkan pemberian pupuk urea memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada, dimana hasil terbaiknya adalah 0,04 kg/ plot (150 kg/ha).
5.      Hama dan Penyakit
Selada memiliki beberapa hama dan penyakit yang mengganggu seperti:
a.       Kutu Daun dan Ulat Daun
Jenis hama yang paling banyak menyerang tanaman selada adalah kutu daun. Akibat yang ditimbulkan dari hama ini berupa mengerut dan mengeringnya daun karena kurang cairan. Tanaman muda yang terserang kutu daun, pertumbuhannya tidak dapat sempurna atau kerdil. Ulat biasanya memakan tanaman secara perlahan-lahan, karnanya kita sulit mengehtaui ulat tersebut. Untuk mengendalikan kutu dan ulat  ini, diperlukan Insektisida, seperti Diazinon, Orthene 75 SP, maupun Bayrusil. Cara pemakaiannya dengan menyemprotkan insektisida tersebut dengan dosis 2 cc/l air.
b.      Hama lain yang juga kerap menyerang tanaman selada adalah thrips. Ciri dari serangan hama ini berupa menguning dan mengeringnya daun sebelum akhirnya tanaman mati. Untuk mengendalikan hama ini dapat digunakan Tamarot 200 EC, Bayrusil 250 EC, atau Tokuthion 500 EC dengan dosis 2 ml per liter air.
c.       Penyakit Busuk Batang
Untuk jenis penyakit yang sering menyerang tanaman selada adalah penyakit busuk batang. Gejalanya ditandai dengan melunak dan berlendirnya batang, sedang akibat yang ditimbulkannya adalah membusuknya akar. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan (Rhizoctonia solani). Untuk mencegahnya, lahan harus senantiasa dijaga kebersihannya serta mengurangi kelembaban lahan. Dapat pula dengan menyemprotkan fungisida Maneb atau Dithane M 45 dengan dosiss 2 g/l.
B.     Panen dan Pasca Panen Tanaman Selada Merah
1.      Panen
Selada dapat dipanen ketika berumur 2-3 bulan setelah tanam. Namun, bisa saja kurang dari umur tersebut tanaman sudah layak konsumsi, jadi bisa dipanen lebih cepat. Cara panen selada dengan memotong bagian tanaman di atas permukaan tanah. Bisa juga dengan mencabut semua bagian termasuk akar. Setelah akar dicuci, daun-daun yang rusak dibuang. Kelompokkan selada berdasar ukuran. Yang besar dengan yang besar dan yang kecil dengan yarrg kecil. Selada ini harus segera dipasarkan karena tak tahan panas dan penguapan.
2.      Pasca Panen
Kerusakan pada komoditas selada bisa disebabkan faktor mekanis, fisiologis, dan nonparasiter. Kerusakan yang disebabkan oleh faktor mekanis umumnya terjadi karena penanganan yang kurang baik pada saat pengangkutan dan bongkar muat, sehingga banyak daun yang robek – robek dan patah. Kerusakan ini harus dicegah. Sebab kerusakan fisik yang terjadi pada daun sangat membantu parasit yang dapat mempercepat kerusakan daun ( Robinson et.al, 1975).

III.             HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Pelaksanaan Budidaya
No.
Kegiatan
Bulan September
Bulan Oktober
Bulan November
Minggu
Minggu
Minggu
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
III
IV
1
Pengolahan lahan












2
Pembibitan












3
Penanaman












4
Penyulaman












5
Penyiraman












6
Penjarangan tanaman












7
Penyiangan












8
Pembumbunan












9
Pemupukan susulan












10
Pengendalian hama dan penyakit












11
Pemanenan












12
Pemasaran













3.2. Hasil dan Analisis Ekonomi
Analisa usaha tani Selada Merah
·         Input:
v  Bibit selada merah 390 x 125  Rp. 48.750,-
v  Pupuk kandang 1 karung         Rp. 10.000,-
v  Rafia satu gulung kecil            Rp. 5.000,-
v  Sewa lahan (3 bulan)               Rp. 150.000,-
Total                                        Rp. 213. 750,-                      
·         Output:
v  Selada merah 1 kg                   Rp. 15.000,-
v  Selada merah 30 kg x Rp. 20.000 Rp. 600.000,-
·         Keuntungan:
Rp. 600.000 – Rp. 213.750 = Rp. 386.250
·         O/I ratio =  =  = 2,80
Hasil perhitungan ratio lebih dari 1 maka budidaya tanaman selada merah layak dibudidayakan.
3.3. Permasalahan
Substansi
Permasalahan
Penanganan
Gulma
Persaingan unsur hara ditanah
Dicabut secara manual
Air
Jauhnya sumber air
-
Peralatan terbatas
Gembor dan cangkul jumlahnya sedikit
-


IV.             KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
1.      Syarat tumbuh tanaman selada di pengaruhi oleh :
a.       Faktor Iklim
Tanaman selada membutuhkan lingkungan tempat tumbuh yang beriklim dingin dan sejuk yakni pada temparatur 15-20 ÂșC. Di Indonesia, selada dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi (600-1.200 mdpl).
b.      Faktor Tanah
Pada dasarnya tanaman selada dapat ditanam di lahan sawah maupun tegalan. Tanah yang ideal untuk tanaman selada adalah liat berpasir. Di Indonesia tanaman ini cocok ditanam pada tanah andosol maupun latosol. Syaratnya tanah tersebut harus subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, tidak mudah menggenang dan pH-nya antara 5,0 - 6,8.
2.      Teknik Budidaya yang baik dan benar :
a.       Pemilihan benih
b.      Pengolahan lahan Serta penanaman bibit
c.       Perawatan
d.      Mengendalikan hama dan penyakit
e.       Melakukan masa panen dan pasca panen
4.2.Saran

V.                DAFTAR PUSTAKA
Aini, R, Yaya, S, dan Hana, M. N. 2010. Penerapan Bionutrien KPD Pada Tanaman Selada Keriting (Lactuca sativa Var. crispa). Jurnal Sains dan Teknologi Kimia, 1 (1): 73-79
Barmin. 2010. Budidaya Sayur Daun. CV. Rikardo. Jakarta. 36 hlm.
Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan. 1992. Vademekum Sayur-sayuran. Direktorat Bina Produksi Hortikultura. Jakarta.
Fitter, A. M. dan R. K. M. Hay. 1994. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gajah Mada University. Press, Yokyakarta . 421 hal.
Haryanto, E. Tina, S, dan Estu, R. 1995. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta. 117 hlm.
Lingga P, Marsono. 2007. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar swadaya.  Jakarta. 146 hlm.
Nazaruddin., 2003. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. Penebar Swadaya, Jakarta
Pracaya. 2004. Bertanam Sayur Organik di Kebun, Pot dan Polibag. Penebar sawadaya. Jakarta. 112 hlm.
Rukmana, R. 1994. Bertanam Selada dan Andewi. Kanisius. Yogyakarta. 43 hlm.
Setiowati, Y. 2011. Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Selada (lactuca sativa L.) yang Diberi Berbagai Dosis Kompos Eceng Gondok dan Pupuk Urea. Skripsi. Universitas Riau.



Kehidupan Suku Dayak-Hiperdo Dhumas-522016099

Aspek Kehidupan Suku Dayak Di kalangan Suku Dayak terdapat keragaman yang besar antar suku yang satu dengan yang lainya dari sudut bahas...