BUDIDAYA TANAMAN
SELADA MERAH (Lactuca Sativa L) VARIETAS
LOLLO ROSSO
LAPORAN PAKTIKUM
DASAR-DASAR AGRONOMI

Oleh :
Hiperdo Dhumas 522016099
FAKULTAS
PERTANIAN DAN BISNIS
UNIVERSITAS
KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2017
I.
PENDAHULUAN
1.1. LatarBelakang
Selada (Lactuca sativa L.) termasuk dalam kelompok tanaman sayuran daun yang dikenal
di masyarakat. Jenis sayuran ini mengandung zat - zat gizi khususnya vitamin
dan mineral yang lengkap untuk memenuhi syarat kebutuhan gizi masyarakat.
Selada sebagai bahan makanan sayuran bisa konsumsi dalam bentuk mentah sebagai
lalapan bersama-sama dengan bahan makanan lain. Selain berguna untuk bahan
makanan, selada juga berguna untuk pegobatan (terapi) berbagai macam penyakit.
Sehingga dengan demikian, selada memiliki peranan yang sangat penting di dalam
menunjang kesehatan masyarakat.
Selada
(Lactuca sativa L) merupakan salah satu komoditi hortikultura yang memiliki
prospek dan nilai komersial yang cukup baik. Semakin bertambahnya jumlah
penduduk Indonesia serta meningkatnya kesadaran penduduk akan kebutuhan gizi
menyebabkan bertambahnya permintaan akan sayuran. Kandungan gizi pada sayuran
terutama vitamin dan mineral tidak dapat disubtitusi melalui makanan pokok,
Nazaruddin (2003).
Mengingat
akan pentingnya sayuran ini bagi kesehatan,baik kandungan gizi maupun seratnya,
mendorong masyarakat makin menggemari sayuran khususnya daun selada. Permintaan
yang terus meningkat sesuai dengan pertambahan pendudukmaka perlu adanya
usaha-usaha pengembangan tehnologi dalam budidaya selada.Memperhatikan kegunaannya yang beragam di dalam kehidupan
sehari-hari, maka selada sangat mudah dipasarkan. Sehingga apabila
dibudidayakan (diusahakan) dengan baik dapat memberikan keuntungan yang besar.
Berusaha tani selada dapat berhasil dengan baik apabila petani memiliki
pengetahuan yang luas mengenai semua aspek yang berkaitan dengan tanaman
selada, yaitu mulai dari manfaat dan kegunaannya, varietas, mutu benih, teknik
budidaya, kondisi lingkungan bertanam, penanganan panen dan hama penyakit
yang menyerang selada itu sendiri.
1.2. Tujuan
1.
Mengetahui syarat tumbuh tanaman selada merah
2.
Mengetahui teknik budidaya yang baik untuk tanaman selada merah
1.3. MetodePelaksanaan
1. Metode
Metode yang digunakan adalah praktik budidaya
di lapangan.
2. Waktu danTempat
Kegiatan ini dilaksanakanpada 15 september 2017 di
Kebun Percobaan Salaran Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya
Wacana (FPB UKSW).
II.
DASAR TEORI
2.1. Deskripsi Tanaman
Selada
merupakan sayuran daun yang berasal dari daerah (negara) beriklim sedang.
Menurut sejarahnya, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 2500 tahun yang lalu.
Tanaman selada berasal dari kawasan Amerika. Hal ini dibuktikan oleh Christoper
Columbus pada tahun 1493 yang menemukan tanaman selada di daerah Hemisphere
bagian barat dan Bahamas (Rukmana, 1994).
Selada
merupakan jenis sayur yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Konsumennya
mulai dari kalangan masyarakat kelas bawah hingga kalangan masyarakat kelas
atas. Selada sering dikonsumsi mentah sebagai lalap lauk makan yang nikmat
ditemani sambal. Masakan asing seperti salad menggunakan selada untuk campuran,
begitu juga hamburger, hot dog, dan beberapa jenis masakan lainnya. Hal
tersebut menunjukkan dari aspek sosial bahwa masyarakat Indonesia mudah
menerima kehadiran selada untuk konsumsi sehari-hari (Haryanto et al., 1995).
Tanaman
selada (Lactuca stiva) termasuk jenis tanaman sayuran daun dan
tergolong ke dalam tanaman semusim (berumur pendek). Tanaman tumbuh pendek
dengan tinggi berkisar antara 20 cm – 40 cm atau lebih, bergantung pada tipe
dan varietasnya. Tanaman selada ada yang membentuk krop (kumpulan daun – daun
yang saling merapat membentuk kepala) dan ada varietas yang tidak membentuk
krop. Tinggi tanaman selada daun berkisar antara 30 cm – 40 cm dan tinggi
tanaman selada kepala berkisar antara 20 cm – 30 cm.
Secara morfologi, organ – organ penting yang
terdapat pada tanaman selada adalah sebagai berikut :
a. Daun
Daun tanaman selada memiliki bentuk, ukuran,
dan warna yang beragam, bergantung pada varietasnya. Misalnya, jenis selada
yang membentuk krop memiliki bentuk daun bulat atau atau lonjong degan ukuran
daun lebar atau besar, daunnya ada yang berwarna hijau tua, hijau terang, dan
ada yang berwarna hijau agak gelap. Sedangkan jenis selada yang tidak membentuk
krop, daunnya berbentuk bulat panjang, berukuran besar, bagian tepi daun
bergerigi (keriting), dan daunnya ada yang berwarna hijau tua, hijau terang,
dan merah. Daun selada memiliki tangkai daun lebar dan tulang – tulang daun
menyirip. Tangkai daun bersifat kuat dan halus. Daun bersifat lunak dan renyah
apabila dimakan, serta memiliki rasa agak manis. Daun selada umumnya memiliki
ukuran panjang 20 cm – 25 cm dan lebar 15 cm atau lebih.
b. Batang
Tanaman selada memiliki batang sejati. Pada
tanaman selada yang membentuk krop, batangnya sangat pendek dan hampir tidak
terlihat dan terletak pada bagian dasar yang berada di dalam tanah. Sedangan
selada yang tidak membentuk krop (selada daun dan selada batang) memiliki
batang yang lebih panjang dan terlihat. Batang bersifat tegap, kokoh, dan kuat
dengan ukuran diameter berkisar antara 5,6 cm – 7 cm (selada batang), 2 cm – 3
cm (selada daun), serta 2 cm – 3 cm (selada kepala).
c. Akar
Tanaman selada memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut.
Akar serabut menmpel pada baying, tumbuh menyebar, ke semua arah pada kedalaman
20 cm – 50 cm atau lebih. Sedangkan akar tunggangnya tumbuh lurus ke pusat
bumi. Perakaran tanaman selada dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada
tanah yang subur, genbur, mudah menyerap air, dan kedalaman tanah (solum tanah)
cukup dalam.
d. Biji
Biji tanaman selada berbentuk lonjong pipih,
berbulu,agak keras, berwarna coklat, tua, serta berukuran sangat kecil, yaitu
panjang 4 mm dan lebar 1 mm. Biji selada merupakan biji tertutup dan berkeping
dua, dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman (perkembangbiakan).
e. Bunga
Bunga tanaman selada berwarna kuning, tumbuh
lebat dalam satu rangkaian. Bunga memiliki tangkai bunga yang panjang sampai
data mencapai 80 cm atau lebih. Tanaman selada yang ditanam di daerah yang
beriklim sedang (subtropik) mudah atau cepat berbuah.
Dalam
ilmu tumbuhan, tanaman selada diklasifikasikan sebagai berikut.
Divisi
: spermatophyte (tanaman berbiji)
Subdivisi
: Angiospermae (biji berada di dalam buah)
Kelas
: Dicotyledonae
(biji berkeping dua atau biji
belah)
Ordo (bangsa)
: Asterales
Famili
(suku)
: Asteraceae (Compositae)
Genus (marga)
: Lactuca
Spesies (jenis)
: Lactuca sativa ( Haryanto et al, 1995).
Selada
yang tergolong spesies lactuca sativa memiliki banyak
varietas, yang telah dikembangkan dan dibudidayakan oleh masyarakat. Di
antaranya ada varietas yang berkrop, yaitu yang membentuk kumpulan daun – daun
yang saling merapat membentuk bulatan menyerupai kepala, dan ada varietas yang
helaian daunnya lepas tidak merapat membentuk bulatan.
Tanaman
selada dikembangbiakkan dengan bijinya. Sebelum dikembangbiakkan biasanya
disemaikan dulu di persemaian. Biji selada dapat dibeli di toko-toko pertanian,
namun dapat juga disiapkan sendiri dengan memilih biji yang tua dan sehat
(Barmin, 2010).
2.2. Budidaya Tanaman
A. Teknik Budidaya Tanaman Selada Merah
1. Pembenihan dan Pembibitan
Tanaman
selada dikembangkan dengan biji. Benih selada dalam bentuk biji tersebut bisa
disebarkan langsung di atas bedengan, namun yang paling baik adalah disemaikan
terlebih dahulu di lahan persemaian selama kurang lebih satu bulan, atau disaat
bibit tanaman tersebut telah memiliki 3 – 5 helai daun. Pembibitan dengan
persemaian selain dapat menghemat benih, juga memudahkan pemeliharaan bibit,
karena bibit yang akan dipindah tanamkan dapat terlebih dahulu diseleksi.
2. Pengolahan Tanah
Pengolahan
tanah dilakukan dengan cara mencangkul atau membajak untuk membalikkan tanah.
Setelah itu tanah dikeringkan selama ± 15 hari, sebelum kembali diolah dengan
membentuk bedengan atau cukup diratakan selama di sekeliling lahan diberi parit
pembuangan air dengan lebar 40-60 cm dan dalam 50-60 cm. Jika dibentuk
bedengan, lebar parit tersebut adalah 80-120 cm sedang tingginya 30-40 cm,
sehingga setiap bedengan bisa ditanami 3-5 barisan tanaman dengan jarak antar
bedeng 30-40 cm.
3. Penanaman
Selada tergolong tanaman yang tidak tahan
terhadap hujan lebat, maka waktu tanam sebaiknya dilakukan pada akhir musim
hujan atau sekitar bulan Maret/April, pada pagi atau sore hari.
Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menanam
selada, yakni dengan :
a.
Menyebarkan benihnya
secara langsung, atau
b.
Memindahkan bibit yang
telah disemai ke lahan tanam.
c.
Namun, sebagaimana
tersebut di atas, cara penanaman yang paling baik adalah dengan menyemai bibit
terlebih dahulu.
4.
Pemeliharaan
Dalam masa pemeliharaan, tanaman selada
memiliki beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti :
a.
Penyiangan
Selada sudah harus disiangi ketika berumur 2
minggu. Hal ini disebabkan karena akar selada yang menancap di tanah dangkal,
sehingga tidak mampu untuk bersaing dengan tanaman lain utamanya rumput-rumput
liar dalam menyerap hara. Fungsi lain dari penyiangan adalah untuk menekan
serangan hama/penyakit. Penyiangan dilakukan dengan Interval satu minggu
sekali.
b.
Pengairan
Tanaman selada butuh air yang cukup, maka
pengairan juga harus mendapat perhatian, utamanya di daerah dataran rendah yang
suhu udaranya lebih panas serta sering kekurangan air. Kebutuhan air wajib
dipenuhi pada masa awal penanaman, disaat tanaman berumur 2 minggu, atau saat
penyiangan pertama, juga pada waktu tanaman berumur satu bulan.
c.
Penyiraman
Penyiraman bisa dilakukan dengan langsung
menyiramkan air ke bagian batang dan daun tanaman dengan percikan air, bisa
juga dengan mengalirkan air melalui parit-parit pengairan di kanan-kiri lahan
penanaman. Perhatikan kondisi parit pengairan, agar senantiasa dapat melewatkan
kelebihan air di saat turun hujan lebat. Jangan sampai ada air yang tergenang
cukup lama di sekitar tanaman, karena akan merusak perakaran dan menyebabkan
tanaman menjadi roboh.
d.
Pemupukan
Jika tanaman terlihat kurang subur, berikan
pupuk tambahan berupa pupuk kandang sebanyak 2 ton untuk satu hektar lahan.
Pupuk kandang yang baik adalah yang mengandung unsur nitrogen yang tinggi
seperti kotoran ayam. Selain pupuk kandang, dapat pula ditambahkan pupuk kimia.
Menurut Direktorat Jendral Pertanian (1992), tanaman selada membutuhkan pupuk
anorganik untuk setiap hektarnya adalah: urea 220 kg/ha, TSP 220 kg/ha, dan KCl
160 kg/ha, dimana pupuk tersebut diberikan di alur kiri dan kanan tanaman.
Hasil penelitian Setiowati (2011) memperlihatkan pemberian pupuk urea
memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada,
dimana hasil terbaiknya adalah 0,04 kg/ plot (150 kg/ha).
5. Hama dan Penyakit
Selada memiliki
beberapa hama dan penyakit yang mengganggu seperti:
a.
Kutu Daun dan Ulat Daun
Jenis hama yang
paling banyak menyerang tanaman selada adalah kutu daun. Akibat yang
ditimbulkan dari hama ini berupa mengerut dan mengeringnya daun karena kurang
cairan. Tanaman muda yang terserang kutu daun, pertumbuhannya tidak dapat
sempurna atau kerdil. Ulat biasanya memakan tanaman secara perlahan-lahan,
karnanya kita sulit mengehtaui ulat tersebut. Untuk mengendalikan kutu dan ulat
ini, diperlukan Insektisida, seperti
Diazinon, Orthene 75 SP, maupun Bayrusil. Cara pemakaiannya dengan
menyemprotkan insektisida tersebut dengan dosis 2 cc/l air.
b.
Hama lain yang juga kerap menyerang tanaman selada adalah thrips.
Ciri dari serangan hama ini berupa menguning dan mengeringnya daun sebelum
akhirnya tanaman mati. Untuk mengendalikan hama ini dapat digunakan Tamarot 200
EC, Bayrusil 250 EC, atau Tokuthion 500 EC dengan dosis 2 ml per liter air.
c.
Penyakit Busuk Batang
Untuk jenis penyakit
yang sering menyerang tanaman selada adalah penyakit busuk batang. Gejalanya
ditandai dengan melunak dan berlendirnya batang, sedang akibat yang
ditimbulkannya adalah membusuknya akar. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan (Rhizoctonia solani). Untuk mencegahnya,
lahan harus senantiasa dijaga kebersihannya serta mengurangi kelembaban lahan.
Dapat pula dengan menyemprotkan fungisida Maneb atau Dithane M 45 dengan dosiss
2 g/l.
B. Panen dan Pasca Panen Tanaman Selada Merah
1. Panen
Selada dapat dipanen
ketika berumur 2-3 bulan setelah tanam. Namun, bisa saja kurang dari umur
tersebut tanaman sudah layak konsumsi, jadi bisa dipanen lebih cepat. Cara
panen selada dengan memotong bagian tanaman di atas permukaan tanah. Bisa juga
dengan mencabut semua bagian termasuk akar. Setelah akar dicuci, daun-daun yang
rusak dibuang. Kelompokkan selada berdasar ukuran. Yang besar dengan yang besar
dan yang kecil dengan yarrg kecil. Selada ini harus segera dipasarkan karena
tak tahan panas dan penguapan.
2. Pasca Panen
Kerusakan pada
komoditas selada bisa disebabkan faktor mekanis, fisiologis, dan nonparasiter.
Kerusakan yang disebabkan oleh faktor mekanis umumnya terjadi karena penanganan
yang kurang baik pada saat pengangkutan dan bongkar muat, sehingga banyak daun
yang robek – robek dan patah. Kerusakan ini harus dicegah. Sebab kerusakan
fisik yang terjadi pada daun sangat membantu parasit yang dapat mempercepat
kerusakan daun ( Robinson et.al, 1975).
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Pelaksanaan Budidaya
|
No.
|
Kegiatan
|
Bulan September
|
Bulan Oktober
|
Bulan November
|
|||||||||
|
Minggu
|
Minggu
|
Minggu
|
|||||||||||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
||
|
1
|
Pengolahan
lahan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Pembibitan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Penanaman
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Penyulaman
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Penyiraman
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Penjarangan
tanaman
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Penyiangan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Pembumbunan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Pemupukan
susulan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10
|
Pengendalian
hama dan penyakit
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
11
|
Pemanenan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
12
|
Pemasaran
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.2. Hasil dan Analisis
Ekonomi
Analisa usaha tani Selada Merah
·
Input:
v
Bibit selada merah 390 x 125 Rp. 48.750,-
v
Pupuk kandang 1 karung Rp. 10.000,-
v
Rafia satu gulung kecil Rp. 5.000,-
v
Sewa lahan (3 bulan) Rp. 150.000,-
Total Rp.
213. 750,-
·
Output:
v
Selada merah 1 kg Rp. 15.000,-
v
Selada merah 30 kg x Rp. 20.000 Rp. 600.000,-
·
Keuntungan:
Rp. 600.000 – Rp. 213.750 = Rp.
386.250
·
O/I ratio =
=
=
2,80
Hasil perhitungan ratio lebih
dari 1 maka budidaya tanaman selada merah layak dibudidayakan.
3.3. Permasalahan
|
Substansi
|
Permasalahan
|
Penanganan
|
|
Gulma
|
Persaingan unsur hara ditanah
|
Dicabut secara
manual
|
|
Air
|
Jauhnya sumber air
|
-
|
|
Peralatan
terbatas
|
Gembor dan cangkul jumlahnya sedikit
|
-
|
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
1.
Syarat
tumbuh tanaman selada di pengaruhi oleh :
a. Faktor Iklim
Tanaman selada membutuhkan lingkungan tempat
tumbuh yang beriklim dingin dan sejuk yakni pada temparatur 15-20 ÂșC. Di
Indonesia, selada dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi (600-1.200 mdpl).
b. Faktor Tanah
Pada dasarnya tanaman selada dapat ditanam di
lahan sawah maupun tegalan. Tanah yang ideal untuk tanaman selada adalah liat
berpasir. Di Indonesia tanaman ini cocok ditanam pada tanah andosol maupun
latosol. Syaratnya tanah tersebut harus subur, gembur, banyak mengandung bahan
organik, tidak mudah menggenang dan pH-nya antara 5,0 - 6,8.
2. Teknik Budidaya yang baik dan benar :
a. Pemilihan benih
b. Pengolahan lahan Serta penanaman bibit
c. Perawatan
d. Mengendalikan hama dan penyakit
e. Melakukan masa panen dan pasca panen
4.2.Saran
V.
DAFTAR PUSTAKA
Aini, R, Yaya, S, dan Hana, M. N. 2010. Penerapan Bionutrien KPD
Pada Tanaman Selada Keriting (Lactuca sativa Var. crispa). Jurnal Sains dan
Teknologi Kimia, 1 (1): 73-79
Barmin. 2010. Budidaya Sayur Daun. CV. Rikardo. Jakarta. 36 hlm.
Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan. 1992. Vademekum
Sayur-sayuran. Direktorat Bina Produksi Hortikultura. Jakarta.
Fitter, A. M. dan R. K. M. Hay. 1994. Fisiologi Lingkungan
Tanaman. Gajah Mada University. Press, Yokyakarta . 421 hal.
Haryanto, E. Tina, S, dan Estu, R. 1995. Sawi dan Selada.
Penebar Swadaya. Jakarta. 117 hlm.
Lingga P, Marsono. 2007. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar
swadaya. Jakarta. 146 hlm.
Nazaruddin., 2003. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran
Rendah. Penebar Swadaya, Jakarta
Pracaya. 2004. Bertanam Sayur Organik di Kebun, Pot dan Polibag.
Penebar sawadaya. Jakarta. 112 hlm.
Rukmana, R. 1994. Bertanam Selada dan Andewi. Kanisius.
Yogyakarta. 43 hlm.
Setiowati, Y. 2011. Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Selada
(lactuca sativa L.) yang Diberi Berbagai Dosis Kompos Eceng Gondok dan Pupuk
Urea. Skripsi. Universitas Riau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar